Sukses Pasarkan Monel Lewat Internet
Januari 06th, 2009 by Trag’s
Memperoleh dukungan pinjaman permodalan sebesar Rp 45
juta, Wayan dan suaminya mengembangkan produksi monel.
Melalui penanganan secara profesional dengan memberi
upah 20 karayawannya antara Rp 350 ribu hingga Rp 750
ribu per bulan, berhasil raih omset per bulan Rp 100
juta dengan keutungan bersih 15 persen.
Kepiawaian mengolah monte dengan memadukan kreativitas
seni tidak saja menarik bagi sebuah asesoris, tapi lebih
dari itu dapat menjadi lahan usaha menjanjikan sehingga
mampu meningkatkan kondisi kesejahteraan ekonomi
keluarganya. Demikian halnya yang dialami pasangan Wayan
Kasiarti (24 tahun) dan Putu Agus (23 tahun). Pasangan
suami istri beranak satu bernama Rama Adhita (2 bulan)
ini merasakan betapa bersyukurnya dapat menikmati apa
yang telah dicapainya saat ini meski keduanya masih
terbilang muda.
“Tapi pengalaman pahit dan getir kami sudah cukup
banyak, dan saat ini Tuhan memberi kesempatan baik buat
kami,” ujar Wayan mengomentari kemajuan usaha monel yang
ditekuni. Memang benar apa yang dikatakan istri Putu
Agus. Perjalanan panjangnya diallaui dengan penuh
warna-warni bahkan melengkapi artinya sebuah derita
sebagai sosok manusia yang ditakdirkan terlahir dari
keluarga kurang beruntung. Namun semua itu dinikmatinya
dengan penuh kedamaian, ikhlas dan tulus.
Setamat SMA sembari meneruskan kuliah Diploma I jurusan
Paaariwisata di Gianyar, Wayan mudaa nekad membuka usaha
kecil-kecilan sembari membuat beberapa kerajinan monte.
Uasaha ini dilakukan di rumah pamannya yang telah
diikutinya sejak kelas III SD. Setiap hari Wayan harus
memasarkan dagangannya keliling dari bungalow-bungalow
tempat biasa para turis menginap. Bahkan ia sering pula
memasarkan via internet dengan memanfaatkan fasilitas
surat eleektronik (e-mail) ke beberapa turis yang tak
lain adalah mantan majikannya.
Tahun demi tahun, tantangan demi tantangan dilalui Wayan
hingga membawa pada kesiapannya menikah dengan Putu
Agus, seorang ‘teman’ yang selama ini banyak membantu
usahanya bahkan seringkali menemani Wayan mencari bahan
untuk monel-monelnya itu.
Selepas pernikahan yang dilakukan di rumah orang tua
Wayan, kedua pasangan ini semakin mengukuhkan diri lahan
usahaya. Berbagai pameran diikutinya demi memperkenalkan
hasil produksinya ke masyarakat luas. Hasilnya cukup
baik. Sebagai buktinya, langganan dari wisatawan asing
terus mengalir, pesanan-pesanan kian banyak khususnya
dari Australia dan Amerika.
“Kami memanfaatkan ajang kegiatan pameran bagi
pengenalan produk kami, dan kami pun tak segan-segan
memburu bahan baku seperti mutiara dan batu permata
sebagai bahan monel hingga Hongkong,” kata Wayan.
Mitra BPD Bali
Dengan mengerahkan 20 orang karyawan Wayan dan Putu
terus mencari inovasi-inovasi baru baik menyangkut
disain maupun tehnik dan strategi mencari pangsa pasar.
Keduanya terbilang jeli dalam memanfatkan peluang pasar.
Didukung pinjaman kredit Pundi dari Bank BPD Bali yang
memiliki jalinan kemitraan khususnya dalam produk Kredit
Pundi dengan Yayasan dana Sejahtera mandiri (Damandiri),
Wayan dengan mengagunkan sertifikat tanahnya pada ahun
2003 memperoleh dukungan pinjaman permodalan sebesar Rp
45 juta. Tak kepalang kini usahanya kian berkembang,
bahkan ia kini telah mampu membangun rumah tinggalnya
yang bernilai ratusan juta rupiah dari hasil usaha yang
digeluti selama ini.
Dalam menjalankan usaha pun Wayan dan suaminya sudah
menerapkan pembagian tugas masig-masing sesuai bidang,
seperti misalnya, akunting, pemasaran, quality control,
desain, pengiriman barang, dan bagian produksi. Upah
para karayawannya berkisar antara Rp 350 ribu hingga Rp
750 ribu per bulan. Omsetnya kini per bulan mencapai
pada bilangan Rp 100 juta dengan keutungan bersih 15
persen. Bahkan aset usaha yang dimilikinya sekarang atau
modal berjalan Rp 600 juta.
Guna mengembangkan sayap usahanya Wayan pun membuka
agen-agen pemasaran di luar negeri, seperti Amerika,
Australia, Inggeris, Belanda, dan negara lainnya. Selain
membuka ‘pasar’ di beberapa hotel berbintang yang ada di
Bali. Selain itu ia rajin memfoto produknya dengan
kemera digital untuk kemudian di-up load ke internet,
sehingga masyarakat dunia bisa melihat produk-produk
monel yang ditawarkannya melalui internet tersebut.
Monel-monel yang dipadupadaan dengan batu permata maupun
mutiara ini berwujud kalung, gelang, cincin, anting, dan
sebagainya. Semua dikeerjakan dengan tangan bukan mesin.
Barangkali inilah keunggulan produk buatan Wayan.
Meskipun bukan buatan mesin tapi monel-monelnya memiliki
kualitas sangat baik, buktinya banyak turis menyukainya.
Melihat usahanya berkembang dan turis serta pelangganya
merasa puas, Wayan dan Putu warga Jalan Raya Petak
Manisan No. 45, Desa Petak Kaja, Gianyar, Bali, pun
tersenyum seraya menimang Rama Adhita, sang buah hati
hasil cinta sejatinya sang pembuat monel.
Posted in Uncategorized | No Comments »