Rabu, 14 Januari 2009

Sukses Pasarkan Monel Lewat Internet

Sukses Pasarkan Monel Lewat Internet

Januari 06th, 2009 by Trag’s

Memperoleh dukungan pinjaman permodalan sebesar Rp 45

juta, Wayan dan suaminya mengembangkan produksi monel.

Melalui penanganan secara profesional dengan memberi

upah 20 karayawannya antara Rp 350 ribu hingga Rp 750

ribu per bulan, berhasil raih omset per bulan Rp 100

juta dengan keutungan bersih 15 persen.

Kepiawaian mengolah monte dengan memadukan kreativitas

seni tidak saja menarik bagi sebuah asesoris, tapi lebih

dari itu dapat menjadi lahan usaha menjanjikan sehingga

mampu meningkatkan kondisi kesejahteraan ekonomi

keluarganya. Demikian halnya yang dialami pasangan Wayan

Kasiarti (24 tahun) dan Putu Agus (23 tahun). Pasangan

suami istri beranak satu bernama Rama Adhita (2 bulan)

ini merasakan betapa bersyukurnya dapat menikmati apa

yang telah dicapainya saat ini meski keduanya masih

terbilang muda.

“Tapi pengalaman pahit dan getir kami sudah cukup

banyak, dan saat ini Tuhan memberi kesempatan baik buat

kami,” ujar Wayan mengomentari kemajuan usaha monel yang

ditekuni. Memang benar apa yang dikatakan istri Putu

Agus. Perjalanan panjangnya diallaui dengan penuh

warna-warni bahkan melengkapi artinya sebuah derita

sebagai sosok manusia yang ditakdirkan terlahir dari

keluarga kurang beruntung. Namun semua itu dinikmatinya

dengan penuh kedamaian, ikhlas dan tulus.

Setamat SMA sembari meneruskan kuliah Diploma I jurusan

Paaariwisata di Gianyar, Wayan mudaa nekad membuka usaha

kecil-kecilan sembari membuat beberapa kerajinan monte.

Uasaha ini dilakukan di rumah pamannya yang telah

diikutinya sejak kelas III SD. Setiap hari Wayan harus

memasarkan dagangannya keliling dari bungalow-bungalow

tempat biasa para turis menginap. Bahkan ia sering pula

memasarkan via internet dengan memanfaatkan fasilitas

surat eleektronik (e-mail) ke beberapa turis yang tak

lain adalah mantan majikannya.

Tahun demi tahun, tantangan demi tantangan dilalui Wayan

hingga membawa pada kesiapannya menikah dengan Putu

Agus, seorang ‘teman’ yang selama ini banyak membantu

usahanya bahkan seringkali menemani Wayan mencari bahan

untuk monel-monelnya itu.

Selepas pernikahan yang dilakukan di rumah orang tua

Wayan, kedua pasangan ini semakin mengukuhkan diri lahan

usahaya. Berbagai pameran diikutinya demi memperkenalkan

hasil produksinya ke masyarakat luas. Hasilnya cukup

baik. Sebagai buktinya, langganan dari wisatawan asing

terus mengalir, pesanan-pesanan kian banyak khususnya

dari Australia dan Amerika.

“Kami memanfaatkan ajang kegiatan pameran bagi

pengenalan produk kami, dan kami pun tak segan-segan

memburu bahan baku seperti mutiara dan batu permata

sebagai bahan monel hingga Hongkong,” kata Wayan.

Mitra BPD Bali

Dengan mengerahkan 20 orang karyawan Wayan dan Putu

terus mencari inovasi-inovasi baru baik menyangkut

disain maupun tehnik dan strategi mencari pangsa pasar.

Keduanya terbilang jeli dalam memanfatkan peluang pasar.

Didukung pinjaman kredit Pundi dari Bank BPD Bali yang

memiliki jalinan kemitraan khususnya dalam produk Kredit

Pundi dengan Yayasan dana Sejahtera mandiri (Damandiri),

Wayan dengan mengagunkan sertifikat tanahnya pada ahun

2003 memperoleh dukungan pinjaman permodalan sebesar Rp

45 juta. Tak kepalang kini usahanya kian berkembang,

bahkan ia kini telah mampu membangun rumah tinggalnya

yang bernilai ratusan juta rupiah dari hasil usaha yang

digeluti selama ini.

Dalam menjalankan usaha pun Wayan dan suaminya sudah

menerapkan pembagian tugas masig-masing sesuai bidang,

seperti misalnya, akunting, pemasaran, quality control,

desain, pengiriman barang, dan bagian produksi. Upah

para karayawannya berkisar antara Rp 350 ribu hingga Rp

750 ribu per bulan. Omsetnya kini per bulan mencapai

pada bilangan Rp 100 juta dengan keutungan bersih 15

persen. Bahkan aset usaha yang dimilikinya sekarang atau

modal berjalan Rp 600 juta.

Guna mengembangkan sayap usahanya Wayan pun membuka

agen-agen pemasaran di luar negeri, seperti Amerika,

Australia, Inggeris, Belanda, dan negara lainnya. Selain

membuka ‘pasar’ di beberapa hotel berbintang yang ada di

Bali. Selain itu ia rajin memfoto produknya dengan

kemera digital untuk kemudian di-up load ke internet,

sehingga masyarakat dunia bisa melihat produk-produk

monel yang ditawarkannya melalui internet tersebut.

Monel-monel yang dipadupadaan dengan batu permata maupun

mutiara ini berwujud kalung, gelang, cincin, anting, dan

sebagainya. Semua dikeerjakan dengan tangan bukan mesin.

Barangkali inilah keunggulan produk buatan Wayan.

Meskipun bukan buatan mesin tapi monel-monelnya memiliki

kualitas sangat baik, buktinya banyak turis menyukainya.

Melihat usahanya berkembang dan turis serta pelangganya

merasa puas, Wayan dan Putu warga Jalan Raya Petak

Manisan No. 45, Desa Petak Kaja, Gianyar, Bali, pun

tersenyum seraya menimang Rama Adhita, sang buah hati

hasil cinta sejatinya sang pembuat monel.

Posted in Uncategorized | No Comments »