Minggu, 25 Januari 2009

Teknik Membuat Film Sablon

Teknik Membuat Film Sablon

januari 25th, 2009 by Trag's


Dalam pembuatan film sablon ada beberapa tahapan, yaitu :

1. Penyetingan Gambar Film

Siapkan gambar yang akan di gunakan, kemudian edit sesuai keinginan dalam hal ini biasanya menggunakan program Coreldraw dan Photoshop juga bisa.

2. Tahap Pra-Afdruk (sebelum pemindahan gambar ke screen)

Tahap ini meliputi pembersihan dan persiapan screen. Dalam pembersihan dan persiapan screen alat-alat yang dibutuhkan meliputi : sabun colek, air bersih dan kain spon/ kapas.

Pertama-tama screen dicuci menggunakan air dan sabun sampai bersih, kemudian jemur sampai benar-benar kaering, hal ini perlu karena sebelum di afdruk screen harus benar-benar bersih dan kering.

3. Tahap Afdruk (pemindahan gambar ke screen)

Tahap ini meliputi pengolesan obat, pengeringan obat pada screen, pembakaran screen/perfilm-an, pencucian obat pada screen dan penjemuran hasil afdruk. Di dalam tahap pemberian obat membutuhkan alat-alat antara lain berupa : screen, obat, kipas angin/ blower, semprotan dan alat perata screen (papan, busa, kain hitam dan kaca. semua ukuran screen ).

Pertama kita siapkan obat afdruk dengan cara mencampurkan cairan merah dan putih (dosis sesuai anjuran di kotak box-nya). Setelah obat tercampur dengan rata tuangkan sedikit demi sedikit pada screen dan ratakan dengan merata, kemudian screen tersebut keringkan menggunakan kipas angin atau blower.

Pengeringan screen tidak boleh terkena sinar matahari untuk itu dianjurkan pengeringan di ruang tertutup, setelah kering kita memasuki tahap pembakaran screen perfilm-an. Pada tahap ini kita membutuhkan alat-alat lainnya berupa : gambar yang sudah diedit, kaca, screen, kain hitam, busa screen dan papan.

Pertama kita ambil papan terlebih dahulu, taruh busa di atas papan kemudian taruh kain warna hitam di atas busa tersebut, lalu kita ambil screen yang sudah disiapkan kemudian taruh screen di atas kain berwarna hitam setelah itu ambil gambar yang telah diedit dan tempel di atas screen, sebelum gambar tersebut ditempelkan terlebih dahulu kita olesi dengan minyak goreng, hal ini dilakukan agar kertas pada screen akan tembus sinar, setelah itu taruh kaca di atas screen. Untuk lebih jelasnya urutan dari bawah ke atas adalah: papan, busa screen, kain warna hitam, screen, gambar, kaca.

Setelah itu kita sinari screen dengan sinar matahari. Di dalam penyinaran waktu yang dibutuhkan hitungan detik, yaitu antara 3 sampai 9 detik tergantung panas tidaknya sinar matahari yang keluar. Jika terlalu lama atau terlalu cepat dalam penyinaran, hasil perfilm-an screen akan rusak. Setelah proses penyinaran screen kita cuci dengan air hangat untuk membersihkan bekas-bekas obat yang nempel. Dalam pencucian hasil afdruk kita membutuhkan alat penyemprot, alat ini digunakan untuk membersihkan obat yang tersisa di sela-sela gambar yang terdapat pada screen, setelah bersih screen dijemur sampai kering setelah itu bisa digunakan.

Posted in Uncategorized | No Comments »



Rabu, 14 Januari 2009

Sukses Pasarkan Monel Lewat Internet

Sukses Pasarkan Monel Lewat Internet

Januari 06th, 2009 by Trag’s

Memperoleh dukungan pinjaman permodalan sebesar Rp 45

juta, Wayan dan suaminya mengembangkan produksi monel.

Melalui penanganan secara profesional dengan memberi

upah 20 karayawannya antara Rp 350 ribu hingga Rp 750

ribu per bulan, berhasil raih omset per bulan Rp 100

juta dengan keutungan bersih 15 persen.

Kepiawaian mengolah monte dengan memadukan kreativitas

seni tidak saja menarik bagi sebuah asesoris, tapi lebih

dari itu dapat menjadi lahan usaha menjanjikan sehingga

mampu meningkatkan kondisi kesejahteraan ekonomi

keluarganya. Demikian halnya yang dialami pasangan Wayan

Kasiarti (24 tahun) dan Putu Agus (23 tahun). Pasangan

suami istri beranak satu bernama Rama Adhita (2 bulan)

ini merasakan betapa bersyukurnya dapat menikmati apa

yang telah dicapainya saat ini meski keduanya masih

terbilang muda.

“Tapi pengalaman pahit dan getir kami sudah cukup

banyak, dan saat ini Tuhan memberi kesempatan baik buat

kami,” ujar Wayan mengomentari kemajuan usaha monel yang

ditekuni. Memang benar apa yang dikatakan istri Putu

Agus. Perjalanan panjangnya diallaui dengan penuh

warna-warni bahkan melengkapi artinya sebuah derita

sebagai sosok manusia yang ditakdirkan terlahir dari

keluarga kurang beruntung. Namun semua itu dinikmatinya

dengan penuh kedamaian, ikhlas dan tulus.

Setamat SMA sembari meneruskan kuliah Diploma I jurusan

Paaariwisata di Gianyar, Wayan mudaa nekad membuka usaha

kecil-kecilan sembari membuat beberapa kerajinan monte.

Uasaha ini dilakukan di rumah pamannya yang telah

diikutinya sejak kelas III SD. Setiap hari Wayan harus

memasarkan dagangannya keliling dari bungalow-bungalow

tempat biasa para turis menginap. Bahkan ia sering pula

memasarkan via internet dengan memanfaatkan fasilitas

surat eleektronik (e-mail) ke beberapa turis yang tak

lain adalah mantan majikannya.

Tahun demi tahun, tantangan demi tantangan dilalui Wayan

hingga membawa pada kesiapannya menikah dengan Putu

Agus, seorang ‘teman’ yang selama ini banyak membantu

usahanya bahkan seringkali menemani Wayan mencari bahan

untuk monel-monelnya itu.

Selepas pernikahan yang dilakukan di rumah orang tua

Wayan, kedua pasangan ini semakin mengukuhkan diri lahan

usahaya. Berbagai pameran diikutinya demi memperkenalkan

hasil produksinya ke masyarakat luas. Hasilnya cukup

baik. Sebagai buktinya, langganan dari wisatawan asing

terus mengalir, pesanan-pesanan kian banyak khususnya

dari Australia dan Amerika.

“Kami memanfaatkan ajang kegiatan pameran bagi

pengenalan produk kami, dan kami pun tak segan-segan

memburu bahan baku seperti mutiara dan batu permata

sebagai bahan monel hingga Hongkong,” kata Wayan.

Mitra BPD Bali

Dengan mengerahkan 20 orang karyawan Wayan dan Putu

terus mencari inovasi-inovasi baru baik menyangkut

disain maupun tehnik dan strategi mencari pangsa pasar.

Keduanya terbilang jeli dalam memanfatkan peluang pasar.

Didukung pinjaman kredit Pundi dari Bank BPD Bali yang

memiliki jalinan kemitraan khususnya dalam produk Kredit

Pundi dengan Yayasan dana Sejahtera mandiri (Damandiri),

Wayan dengan mengagunkan sertifikat tanahnya pada ahun

2003 memperoleh dukungan pinjaman permodalan sebesar Rp

45 juta. Tak kepalang kini usahanya kian berkembang,

bahkan ia kini telah mampu membangun rumah tinggalnya

yang bernilai ratusan juta rupiah dari hasil usaha yang

digeluti selama ini.

Dalam menjalankan usaha pun Wayan dan suaminya sudah

menerapkan pembagian tugas masig-masing sesuai bidang,

seperti misalnya, akunting, pemasaran, quality control,

desain, pengiriman barang, dan bagian produksi. Upah

para karayawannya berkisar antara Rp 350 ribu hingga Rp

750 ribu per bulan. Omsetnya kini per bulan mencapai

pada bilangan Rp 100 juta dengan keutungan bersih 15

persen. Bahkan aset usaha yang dimilikinya sekarang atau

modal berjalan Rp 600 juta.

Guna mengembangkan sayap usahanya Wayan pun membuka

agen-agen pemasaran di luar negeri, seperti Amerika,

Australia, Inggeris, Belanda, dan negara lainnya. Selain

membuka ‘pasar’ di beberapa hotel berbintang yang ada di

Bali. Selain itu ia rajin memfoto produknya dengan

kemera digital untuk kemudian di-up load ke internet,

sehingga masyarakat dunia bisa melihat produk-produk

monel yang ditawarkannya melalui internet tersebut.

Monel-monel yang dipadupadaan dengan batu permata maupun

mutiara ini berwujud kalung, gelang, cincin, anting, dan

sebagainya. Semua dikeerjakan dengan tangan bukan mesin.

Barangkali inilah keunggulan produk buatan Wayan.

Meskipun bukan buatan mesin tapi monel-monelnya memiliki

kualitas sangat baik, buktinya banyak turis menyukainya.

Melihat usahanya berkembang dan turis serta pelangganya

merasa puas, Wayan dan Putu warga Jalan Raya Petak

Manisan No. 45, Desa Petak Kaja, Gianyar, Bali, pun

tersenyum seraya menimang Rama Adhita, sang buah hati

hasil cinta sejatinya sang pembuat monel.

Posted in Uncategorized | No Comments »