Senin, 25 Mei 2009

Strategi Bisnis Tetap Tumbuh di Masa Krisis-Pentingnya

Strategi Bisnis Tetap Tumbuh di Masa Krisis - Pentingnya Cerdas Teknologi

Sunday, 17 May 2009
INGIN memiliki keunikan dan keunggulan dalam bersaing? Jadilah perusahaan yang memiliki kecerdasan teknologi. Menjalankan bisnis di tengah krisis bukanlah hal mudah.


Apalagi jika ingin bisa lolos dari dampak krisis dan tetap tumbuh.Agar tetap kompetitif,dibutuhkan energi ekstra.Di antaranya selalu kreatif dan memanfaatkan teknologi. Berdasarkan hasil riset tim Economist Intelligence Unit (EIU),teknologi memiliki peranan penting dalam mewujudkan kecerdasan perusahaan. Sebab selain sebagai agen perubahan, teknologi juga berfungsi sebagai alat transfer data dan informasi.

Sebagaimana dilansir Economist (2 April 2009),perusahaan butuh teknologi untuk membuat kemajuan dalam proses transfer pengetahuan. Tujuannya jelas untuk menanggapi kebutuhan konsumen yang semakin berkembang. Pada era teknologi seperti sekarang ini,perusahaan harus cerdas teknologi. Riset yang dilakukan EIU bekerja sama dengan EMC Corporation berjudul Organisitional Agility: How Bussines Can Survive and Thrive in Turbulent Time mengungkapkan, 64% responden mengaku amat puas dengan ketersediaan informasi bisnis yang mendukung kinerja perusahaan.

Hanya 30% responden yang menyatakan kebutuhan mereka akan informasi guna membangun bisnisnya secara lebih efektif. Buktinya, para eksekutif yang menjadi responden itu sepakat bahwa teknologi menjadi penyokong utama kegiatan bisnis mereka. Di antaranya untuk memperbaiki penggunaan data-data penting yang mendukung kinerja perusahaan.

Jika chief executive officer(CEO) dan chief financial officer (CFO) membutuhkan teknologi untuk mengakses informasi secara real time, para chief information officer (CIO) membutuhkannya untuk mengintegrasikan sistem kinerja perusahaan. Lalu, perusahaan membutuhkannya untuk membuat integrasi sistem teknologi informasi (TI) ke seluruh jaringan bisnis. Riset ini menemukan lebih dari 60% responden dari perusahaan dengan pendapatan sekitar dari USD5 miliar sangat memprioritaskan penggunaan teknologi.

Sementara 42% dari perusahaan yang memiliki pendapatan kurang dari USD500 juta menganggap teknologi sangat penting. Para responden juga mengakui antara kecerdasan perusahaan dengan melek teknologi saling memengaruhi satu sama lain. Menurut para responden, ada beberapa daftar utama manfaat teknologi, di antaranya 81% responden menyatakan teknologi berperan dalam mendorong percepatan inovasi.

Dua pertiga responden juga sepakat,teknologi sangat membantu kegiatan penelitian dan pengembangan serta inovasi produk dan jasa. Guna mencapai target kinerja, tantangan bagi para CIO dan pemimpin bidang teknologi informasi (TI) di perusahaan adalah bagaimana investasi di bidang ini dilakukan secara tepat. Sebab anggaran untuk teknologi akan semakin mahal di masa mendatang.

Hampir 80% responden yang disurvei dalam riset ini menyatakan, anggaran teknologi sangat berkorelasi dengan kecerdasan perusahaan. Baik itu jumlahnya tetap atau naik pada tiga tahun mendatang. Karena itu, sekitar 9% responden menyatakan akan meningkatkan anggaran TI perusahaan mereka secara signifikan. Seperti disebutkan di atas,teknologi sangat berperan dalam memacu inovasi.

Ada beberapa langkah yang bisa diambil para eksekutif perusahaan, di antaranya peranan jejaring sosial untuk mengidentifikasi dan berbagi kontak bisnis. Sebanyak 25% responden menyatakan hal itu sudah dilakukan saat ini. Sementara 19% responden menyatakan sedang berencana menggunakan jejaring sosial untuk tiga tahun mendatang dan 47% lainnya menyatakan tidak tahu. Untuk sistem kolaborasi pengetahuan atau manajemen,penggunaannya 51%, tiga tahun mendatang 30%, dan tidak tahu 19%.

Sementara penggunaan teknologi untuk mengumpulkan data dari berbagai sumber dan berbagi hasil riset pribadi sudah digunakan 28%, tiga tahun mendatang 32%, dan tidak tahu 35%. Selain itu, sebanyak 25% responden sepakat bahwa kemampuan untuk menjadi terdepan dalam inovasi, ide, dan teknologi adalah hal paling penting agar perusahaan berdaya saing di era globalisasi ini.

Hanya 22% responden menyatakan daya saing bisa didorong dari pengalaman, pelibatan produktivitas karyawan dan konsumen secara jangka panjang. Terkait jenis alat teknologi apa yang paling digunakan untuk mendukung terwujudnya kecerdasan perusahaan,para responden diminta memberikan dua pilihan.Di antaranya 68% responden menyatakan surat elektronik (e-mail) sebagai alat paling mendukung.

Kemudian server jaringan dan file 36%, peralatan mobilisasi 30%, perangkat kolaborasi sederhana seperti share point, jive 18%,komputer 15%, pesan instan 9%, sistem manajemen konten 8%,dan lainnya 4%. Sebanyak 22% responden menyatakan teknologi bidang manajemen relasi dengan pelanggan adalah sangat membantu perusahaan menjadi lebih cerdas dalam tiga tahun mendatang.

Sementara 18% responden menyatakan perlunya perusahaan menggunakan teknologi bidang identifikasi analisis konten dan perangkat lunak serta pengetahuan pengelolaan aset. Sebanyak 15% responden mengungkapkan sistem manajemen konten penting mendukung kecerdasan perusahaan. Ketika para responden ditanya jenis teknologi baru apa yang sedang dipertimbangkan untuk diadopsi dan menjadi perhatian utama, sebanyak 70% responden sepakat bidang performa paling utama.

Sementara bidang keamanan dinyatakan 49% responden, neraca 33%, konsistensi lintas batas 32%, kelangsungan vendor 17%, tidak memenuhi target 13%, dan lainnya 7%. Mengenai apa peran bidang TI dalam perusahaan guna meningkatkan performa, produktivitas, dan tanggapnya perusahaan? Sebanyak 45% responden menyatakan bidang TI harus menyediakan akses lebih mudah dan manajemen informasi secara real time.

Sementara 38% responden menyatakan TI bisa berperan untuk mencarikan informasi yang relevan lintas departemen. Kemudian, integrasi sistem TI secara menyeluruh lintas perusahaan (38%),menyediakan perangkat analisis sumber dan konten (35%), mengimplementasi sistem manajemen pengetahuan perusahaan secara luas (33%). Selain itu menyediakan perangkat media komunikasi sosial lintas perusahaan dan pelanggan seperti pesan instan, VoIP,RSS,Twitter (24%).

Menciptakan komunitas dunia maya dalam proses bisnis di mana anggotanya bisa memberikan komentar dan dokumen (18%) serta mendukung dan memperbaiki alamat elektronik perusahaan (10%). Menurut Direktur Pusat Penelitian Sistem Informasi Massachusetts Institute of Technology (MIT) Peter Weill, kecerdasan perusahaan amatlah penting. Ini terbukti dari 88% responden menyatakan bahwa kecerdasan perusahaan adalah kunci kesuksesan dalam persaingan global.

“Ketika saya kecil,perusahaan paling sukses adalah yang melakukan monopoli atau duopoli. Namun sekarang di era globalisasi,jika tidak cerdas, kamu tidak akan bisa berkompetisi. Sebab ekspektasi konsumen tidak pernah statis,” ujarnya. Hal senada diungkapkan pakar marketing revolution Tung Desem Waringin. Menurut dia, pemanfaatan teknologi bisa berkontribusi terhadap pertumbuhan kinerja perusahaan.

Seperti penggunaan internet bisa dimanfaatkan sebagai upaya penghematan iklan. “Bahkan di Amerika Serikat, bisnis melalui internet masih naik ketika semua bisnis turun. Iklan melalui media tradisional akan terasa mahal dan waktu mengukur responsnya kalah cepat dari internet,” tandasnya.

Setidaknya,asumsi Tung semakin meneguhkan asumsi yang menyebutkan siapa yang menguasai teknologi dan informasi akan menguasai dunia. (abdul malik/islahuddin/ faizin aslam)

http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/239073/

Selasa, 17 Februari 2009

Kewirausahaan Dibentuk atau Dilahirkan?

Kewirausahaan Dibentuk atau Dilahirkan?

Februari 17th, 2009 by trag's


Perbedaan antara seorang wirausahawan dengan pengusaha seringkali menjadi pertanyaan bagi banyak orang. Biasanya wirausahawan (entrepreneur) akan dengan pengusaha. Mungkin karena memang kebanyakan pengusaha atau wira­swastawan.

Menurut Taufik Bahaudin. seorang konsultan manajemen dalam ruang lingkup Manajemen sumberdaya manusia dan pengajar di Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia. seorang wirausahawan adalah seseorang yang memiliki kemampuan untuk menciptakan, mencari, dan memanfaatkan peluang dalam menuju apa yang diinginkan sesuai dengan yang diidealkan. Perbedaan seorang wiraswastawan dengan seorang wirausahawan adalah wirausahawan cenderung bermain dengan resiko dan tantangan. Artinya. wirausahawan lebih bermain dengan cara memanfaatkan peluang-peluang tersebut. Sedangkan wiraswastawan lebih cenderung kepada seseorang yang memanfaatkan modal yang dimilikinya untuk membuka suatu usaha tertentu. Seorang wirausahawan bisa jadi merupakan wiraswastawan, namun wiraswastawan belum tentu wirausaha. Wirausahawan mungkin adalah seorang manajer yang mengelola suatu perusahaan yang bukan miliknya. Namun wiraswastawan adalah seseorang yang memiliki sebuah usaha sendiri.

Tanri Abeng adalah seorang wirausahawan yang sukses, namun bukan seoang wiraswastawan karena ia tidak memiliki perusahaan yang dipimpinnya. Bob Sadino merupakan seorang wirausahawan yang juga seorang wiraswastawan yang memiliki perusahaan yang dipimpinnya. Bahkan bukan tidak mungkin pegawai yang bekerja pada pemerintahan dapat disebut wirausahawan karena ia sukses dalam mengembangkan diri dan departemen yang digelutinya. Setiap orang bisa disebut sebagai wirausahawan selama ia dapat memanfaatkan peluang menjadi sebuah tantangan dalam pekerjaannya. Ruang lingkup yang akan dibahas adalah sejauh mana pendidikan kewirausahawan dapat mempengaruhi jiwa seseorang. Ruang lingkup ini akan dipersempit kepada pendidikan kewirausaha yang diberikan di perguruan tinggi.


Perlunya Pendidikan Kewirausahaan


Kecenderungan yang terjadi pada mahasiswa-mahasiswa yang duduk di perguruan tinggi sekarang adalah kebanyakan dari mereka lebih menginginkan pekerjaan yang mapan setelah menyelesaikan pendidikannya. Mereka tidak mau mengawali kehidupan setelah lulus dari perguruan tinggi dengan memulai suatu usaha. Kesuksesan seseorang mereka lihat dari ukuran seberapa makmur kehidupan orang tersebut, berapa besar gaji yang diperolehnya, apakah ia sudah memiliki mobil mewah atau rumah yang indah. Padahal, menurut Taufik, sukses tidaknya seorang wirausahawan bukan dilihat dari sudut pandang kemakmuran dan kesejahteraan seseorang. Namun lebih dinilai dari usaha apa yang telah diperbuat dalam pekerjaannya, baik itu dengan memulai suatu usaha sendiri atau lewat pekerjaan yang digelutinya.

Pendidikan kewirusahaan yang diberikan di perguruan tinggi sekarang ini cenderung kepada bagaimana memulai suatu usaha dan mengelola usaha tersebut dengan baik. Padahal mengacu kepada definisi wirarusaha yang diberikan sebelumnya, wirausaha bukan berarti harus memiliki suatu usaha. Wirausahawan secara umum adalah orang-orang yang mampu menjawab tantangan- tantangan dan memanfaatkan peluang-peluang yang ada. Sehing­ga yang menjadi pertanyaan adalah keberadaan kurikulum pendidikan mengenai kewirausahaan ini. Apakah memang seharusnya mengajarkan bagaimana memulai usaha atau bagaimana menjawab tantangan dan memanfaatkan peluang usaha ? Kalau yang diberikan adalah bagaimana memulai suatu usaha, maka kurikulum yang ada telah menjawab pertanyaan tersebut. Tetapi kalau yang diberikan adalah bagaimana menjawab tantangan dan memanfaatkan peluang usaha, maka akan timbul pertanyaan lain yang lebih sulit dijawab. Apakah seorang wirausahawan/entrepreneur itu dibentuk atau dilahirkan? Ulasan berikut ini lebih membahas pertanyaan yang terakhir tadi.


Dilahirkan atau Dibentuk


Beberapa pakar mengatakan secara umum, jiwa dan kepriba­dian seseorang itu paling tidak di pengaruhi oleh. dua hal, yaitu bakat dan lingkungan. Mengingat besarnya proporsi kedua faktor yang cukup membingungkan yaitu 50%:50%, maka agaknya hal ini perlu dikaji lebih lanjut. Apalagi dikaitkan dengan dimasukkannya pendidikan kewirausahaan di dalam kurikulum perguruan tinggi sekarang.

Memang akhir-akhir ini sudah banyak pelatihan-pelatihan yang diadakan baik oleh pemerintah maupun pihak swasta mengenai kewirausahaan. Bahkan di Amerika Se­rikat sendiri, yang banyak melahirkan ahli-ahli dalam bidang bisnis dan kewirausahaan, sudah banyak kursus-kursus yang memberikan pengetahuan mengenai kewirausahaan. Salah satunya di sekolah bisnis terkenal Harvard Business School. Salah satu pengajar kreativitas dan kewirausahaan di sekolah tersebut, John Kao, menganggap pendidikan kewirausahaan ini cukup penting, mengingat kembali pada besarnya lingkungan yang antara lain adalah pendidikan mempengaruhi bentuk kepribadian seseorang sebesar 5O%. Dari institusi pendidikan juga telah banyak lahir konsep-konsep mengenai bagaimana menjadi wirausahawan yang baik.


Motivasi dan Disiplin Diri


Walau demikian, tetap masih ada dilema mengenai faktor terbesar yang membentuk jiwa kewirausahaan. Apakah memang jiwa kewirausahaan itu bisa dibentuk dari lingkungan sekitar atau tergantung pada bakat yang ada pada diri seseorang tersebut.

Meskipun belum tentu bisa dibenarkan, tetapii ada sedikit pemikiran yang perlu disikapi. Dari sekian banyak buku-buku yang menulis dan membahas tentang wirausaha, ternyata para ahli tersebut merasa masih ada satu hal yang diperlukan bagi seseorang untuk menjadi wirausahawan yang sukses, yaitu motivasi dan disiplin diri. Motivasi dan disiplin diri mendapatkan proporsi yang besar untuk membentuk seseorang menjadi wirausahawan sejati, selain faktor bakat dan faktor lingkungan. Artinya, belum tentu seseorang yang memiliki bakat wirausaha dapat menjadi seorang wirausahawan sejati. Seseorang yang telah banyak mengikuti kursus-kursus, pelatihan-pelatihan maupun kuliah yang membahas mengenai cara mengelola suatu bisnis atau apapun, tetap memerlukan motivasi dan disiplin diri dalam menjalankan usahanya. Motivasi dan disiplin diri merupakan faktor penting, selain faktor bakat dan lingkungan, dalam membentuk seseorang menjadi wirausahawan sejati.

Faktor lingkungan ternyata paling penting tidak masih dapat dibagi kedalam dua hal, yaitu pengalaman dan pendidikan. Keduanya sama-sama memberikan kontribusi yang besar dalam pembentukan jiwa kewirausahaan. Dengan memiliki banyak pengalaman dan mengikuti banyak pelatihan maupun kursus yang sifatnya pendidikan, maka se­seorang barulah lengkap dapat menuju jalur kesuksesan untuk menjadi seorang wirausahawan sejati. Bagaimanpun pepatah yang mengatakan “pengalaman adalah guru yang terbaik” masih menjadi relevan dalam hal kewirausahaan. Karena buku-buku yang membahas kewirausahaan di dunia bisnis ternyata tidak terlepas dari pembahasan atas pengalaman beberapa praktisi yang berkecimpung di dalam dunia kewirausahaan.


Posted in Uncategorized | No Comments »



Minggu, 25 Januari 2009

Teknik Membuat Film Sablon

Teknik Membuat Film Sablon

januari 25th, 2009 by Trag's


Dalam pembuatan film sablon ada beberapa tahapan, yaitu :

1. Penyetingan Gambar Film

Siapkan gambar yang akan di gunakan, kemudian edit sesuai keinginan dalam hal ini biasanya menggunakan program Coreldraw dan Photoshop juga bisa.

2. Tahap Pra-Afdruk (sebelum pemindahan gambar ke screen)

Tahap ini meliputi pembersihan dan persiapan screen. Dalam pembersihan dan persiapan screen alat-alat yang dibutuhkan meliputi : sabun colek, air bersih dan kain spon/ kapas.

Pertama-tama screen dicuci menggunakan air dan sabun sampai bersih, kemudian jemur sampai benar-benar kaering, hal ini perlu karena sebelum di afdruk screen harus benar-benar bersih dan kering.

3. Tahap Afdruk (pemindahan gambar ke screen)

Tahap ini meliputi pengolesan obat, pengeringan obat pada screen, pembakaran screen/perfilm-an, pencucian obat pada screen dan penjemuran hasil afdruk. Di dalam tahap pemberian obat membutuhkan alat-alat antara lain berupa : screen, obat, kipas angin/ blower, semprotan dan alat perata screen (papan, busa, kain hitam dan kaca. semua ukuran screen ).

Pertama kita siapkan obat afdruk dengan cara mencampurkan cairan merah dan putih (dosis sesuai anjuran di kotak box-nya). Setelah obat tercampur dengan rata tuangkan sedikit demi sedikit pada screen dan ratakan dengan merata, kemudian screen tersebut keringkan menggunakan kipas angin atau blower.

Pengeringan screen tidak boleh terkena sinar matahari untuk itu dianjurkan pengeringan di ruang tertutup, setelah kering kita memasuki tahap pembakaran screen perfilm-an. Pada tahap ini kita membutuhkan alat-alat lainnya berupa : gambar yang sudah diedit, kaca, screen, kain hitam, busa screen dan papan.

Pertama kita ambil papan terlebih dahulu, taruh busa di atas papan kemudian taruh kain warna hitam di atas busa tersebut, lalu kita ambil screen yang sudah disiapkan kemudian taruh screen di atas kain berwarna hitam setelah itu ambil gambar yang telah diedit dan tempel di atas screen, sebelum gambar tersebut ditempelkan terlebih dahulu kita olesi dengan minyak goreng, hal ini dilakukan agar kertas pada screen akan tembus sinar, setelah itu taruh kaca di atas screen. Untuk lebih jelasnya urutan dari bawah ke atas adalah: papan, busa screen, kain warna hitam, screen, gambar, kaca.

Setelah itu kita sinari screen dengan sinar matahari. Di dalam penyinaran waktu yang dibutuhkan hitungan detik, yaitu antara 3 sampai 9 detik tergantung panas tidaknya sinar matahari yang keluar. Jika terlalu lama atau terlalu cepat dalam penyinaran, hasil perfilm-an screen akan rusak. Setelah proses penyinaran screen kita cuci dengan air hangat untuk membersihkan bekas-bekas obat yang nempel. Dalam pencucian hasil afdruk kita membutuhkan alat penyemprot, alat ini digunakan untuk membersihkan obat yang tersisa di sela-sela gambar yang terdapat pada screen, setelah bersih screen dijemur sampai kering setelah itu bisa digunakan.

Posted in Uncategorized | No Comments »



Rabu, 14 Januari 2009

Sukses Pasarkan Monel Lewat Internet

Sukses Pasarkan Monel Lewat Internet

Januari 06th, 2009 by Trag’s

Memperoleh dukungan pinjaman permodalan sebesar Rp 45

juta, Wayan dan suaminya mengembangkan produksi monel.

Melalui penanganan secara profesional dengan memberi

upah 20 karayawannya antara Rp 350 ribu hingga Rp 750

ribu per bulan, berhasil raih omset per bulan Rp 100

juta dengan keutungan bersih 15 persen.

Kepiawaian mengolah monte dengan memadukan kreativitas

seni tidak saja menarik bagi sebuah asesoris, tapi lebih

dari itu dapat menjadi lahan usaha menjanjikan sehingga

mampu meningkatkan kondisi kesejahteraan ekonomi

keluarganya. Demikian halnya yang dialami pasangan Wayan

Kasiarti (24 tahun) dan Putu Agus (23 tahun). Pasangan

suami istri beranak satu bernama Rama Adhita (2 bulan)

ini merasakan betapa bersyukurnya dapat menikmati apa

yang telah dicapainya saat ini meski keduanya masih

terbilang muda.

“Tapi pengalaman pahit dan getir kami sudah cukup

banyak, dan saat ini Tuhan memberi kesempatan baik buat

kami,” ujar Wayan mengomentari kemajuan usaha monel yang

ditekuni. Memang benar apa yang dikatakan istri Putu

Agus. Perjalanan panjangnya diallaui dengan penuh

warna-warni bahkan melengkapi artinya sebuah derita

sebagai sosok manusia yang ditakdirkan terlahir dari

keluarga kurang beruntung. Namun semua itu dinikmatinya

dengan penuh kedamaian, ikhlas dan tulus.

Setamat SMA sembari meneruskan kuliah Diploma I jurusan

Paaariwisata di Gianyar, Wayan mudaa nekad membuka usaha

kecil-kecilan sembari membuat beberapa kerajinan monte.

Uasaha ini dilakukan di rumah pamannya yang telah

diikutinya sejak kelas III SD. Setiap hari Wayan harus

memasarkan dagangannya keliling dari bungalow-bungalow

tempat biasa para turis menginap. Bahkan ia sering pula

memasarkan via internet dengan memanfaatkan fasilitas

surat eleektronik (e-mail) ke beberapa turis yang tak

lain adalah mantan majikannya.

Tahun demi tahun, tantangan demi tantangan dilalui Wayan

hingga membawa pada kesiapannya menikah dengan Putu

Agus, seorang ‘teman’ yang selama ini banyak membantu

usahanya bahkan seringkali menemani Wayan mencari bahan

untuk monel-monelnya itu.

Selepas pernikahan yang dilakukan di rumah orang tua

Wayan, kedua pasangan ini semakin mengukuhkan diri lahan

usahaya. Berbagai pameran diikutinya demi memperkenalkan

hasil produksinya ke masyarakat luas. Hasilnya cukup

baik. Sebagai buktinya, langganan dari wisatawan asing

terus mengalir, pesanan-pesanan kian banyak khususnya

dari Australia dan Amerika.

“Kami memanfaatkan ajang kegiatan pameran bagi

pengenalan produk kami, dan kami pun tak segan-segan

memburu bahan baku seperti mutiara dan batu permata

sebagai bahan monel hingga Hongkong,” kata Wayan.

Mitra BPD Bali

Dengan mengerahkan 20 orang karyawan Wayan dan Putu

terus mencari inovasi-inovasi baru baik menyangkut

disain maupun tehnik dan strategi mencari pangsa pasar.

Keduanya terbilang jeli dalam memanfatkan peluang pasar.

Didukung pinjaman kredit Pundi dari Bank BPD Bali yang

memiliki jalinan kemitraan khususnya dalam produk Kredit

Pundi dengan Yayasan dana Sejahtera mandiri (Damandiri),

Wayan dengan mengagunkan sertifikat tanahnya pada ahun

2003 memperoleh dukungan pinjaman permodalan sebesar Rp

45 juta. Tak kepalang kini usahanya kian berkembang,

bahkan ia kini telah mampu membangun rumah tinggalnya

yang bernilai ratusan juta rupiah dari hasil usaha yang

digeluti selama ini.

Dalam menjalankan usaha pun Wayan dan suaminya sudah

menerapkan pembagian tugas masig-masing sesuai bidang,

seperti misalnya, akunting, pemasaran, quality control,

desain, pengiriman barang, dan bagian produksi. Upah

para karayawannya berkisar antara Rp 350 ribu hingga Rp

750 ribu per bulan. Omsetnya kini per bulan mencapai

pada bilangan Rp 100 juta dengan keutungan bersih 15

persen. Bahkan aset usaha yang dimilikinya sekarang atau

modal berjalan Rp 600 juta.

Guna mengembangkan sayap usahanya Wayan pun membuka

agen-agen pemasaran di luar negeri, seperti Amerika,

Australia, Inggeris, Belanda, dan negara lainnya. Selain

membuka ‘pasar’ di beberapa hotel berbintang yang ada di

Bali. Selain itu ia rajin memfoto produknya dengan

kemera digital untuk kemudian di-up load ke internet,

sehingga masyarakat dunia bisa melihat produk-produk

monel yang ditawarkannya melalui internet tersebut.

Monel-monel yang dipadupadaan dengan batu permata maupun

mutiara ini berwujud kalung, gelang, cincin, anting, dan

sebagainya. Semua dikeerjakan dengan tangan bukan mesin.

Barangkali inilah keunggulan produk buatan Wayan.

Meskipun bukan buatan mesin tapi monel-monelnya memiliki

kualitas sangat baik, buktinya banyak turis menyukainya.

Melihat usahanya berkembang dan turis serta pelangganya

merasa puas, Wayan dan Putu warga Jalan Raya Petak

Manisan No. 45, Desa Petak Kaja, Gianyar, Bali, pun

tersenyum seraya menimang Rama Adhita, sang buah hati

hasil cinta sejatinya sang pembuat monel.

Posted in Uncategorized | No Comments »