Usaha Aksesoris Monel Punya Prospek Bagus
September 18th, 2008 by Trag’s
Gebyar perkembangan dunia mode membawa dampak positif berbagai sektor bisnis. Bukan saja bagi para perancang busana, tapi juga pengusaha aksesoris. Berbagai variasi aksesoris mulai dari bernuansa etnik hingga modern semua mudah didapat. Demikian halnya dengan aksesoris terbuat dari logam, seperti monel. Monel yang berbahan dasar dari plat baja tersaji dalam berbagai bentuk dan model. Nyaris di setiap sudut keramaian kota bisa dijumpai hasil kerajinan monel.
Ali Sodikin, lelaki berusia 37 tahun asal Robayan, Kalinyamatan, Jepara, Jawa Tengah, sebagai salah satu pengrajin monel. Dengan latar belakang profesi sebagai pengrajin emas beberapa tahun lalu, menggugah kejeliannya menangkap peluang kebutuhan pasar tentang aksesoris monel. “Sepertinya tren aksesoris monel mempunyai prospek bagus di pasaran, sehingga mendorong saya mencoba menekuni usaha ini,” aku Ali, demikian panggilan akrab bapak tiga anak yang berbadan kekar namun santun. Tepatnya usaha monel ditekuni Ali sejak tahun 2000 lalu. Dengan modal usaha pinjaman berdasarkan kepercayaan dari berbagai pihak baik calon pembeli maupun pemilik bahan dasar, yakni plat baja, bersama dua tenaga kerja usia remaja yang direkrutnya ia mulai mengolah kerajinan ini.
Bekal ketrampilan dan kemampuannya mengolah desain-desain sesuai tren pasar. Tak pelak, dalam waktu singkat banyak pedagang dari sekitar Jepara membeli hasil produksinya. Lambat laun kebutuhan bahan bakunya pun kian bertambah. Ali berupaya mencari penyedia bahan baku dengan harga terjangaku, maka terjalinlah kemitraan dengan Sumber Teknik Semarang. “Rata-rata setiap bulan saya membutuhkan sekitar tiga hingga empat kuintal bahan baku,” ujar pengusaha kecil yang hanya lulusan SMP. Bahkan, lanjut dia, satu bulan menjelang puasa hanya dalam waktu 20 hari sekitar 3,75 kuintal bahan baku sudah habis. Barangkali wajar, karena memang monel buatan Ali sangat akrab di pasar Jepara dan sekitarnya. Bahkan acap kali monel asal kota ukir tersebut dibawa pedagang untuk di pasarkan di berbagai kota-kota lainnya, seperti Jakarta, Yogyakarta, Semarang, dan sebagainya.
Mitra BPR Nusamba Sebagai pengusaha kecil, Ali sangat sadar bila hanya mengandalkan keuangan yang ada, usahanya tak mampu berkembang secara pesat. Sementara kompetisi pasar semakin ketat. Berkat perkenalan dan silahturahminya dengan staf pemasaran Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Nusamba Pecangaan, Jepara, tujuh tahun silam, telah membawa angin segar. “Alhamdulillah, hingga sampai saat ini saya sudah menjadi nasabah BPR Nusamba selama tujuh tahun. Kemitraan ini sangat membantu kelangsungan usaha kecil yang saya tekuni,” ungkap Ali Sodikin. Pada awal perkenalannya dengan BPR tersebut, pengrajin ulet asal Robayan ini, hanya meminjam Rp 500 ribu. Namun secara teratur, terarah dan terencana, pada pinjaman tahap VII kali ini pinjamannya mencapai Rp 10 juta. Pengrajin yang membayar 13 orang pengrajinnya secara borongan minimal Rp 17.500 per orang per hari dan bila lembur hingga jam 01.00 dini hari bisa mendapat Rp 35 ribu, dalam setiap bulan minam sekitar 2000-3000 kodi monel berbagai bentuk dan model. Setiap pedagang yang bertandang ke rumah sekaligus tempat work shop rata-rata mengambil sekitar 200-300 kodi monel. Melihat animo pedagang yang menggemari hasil produksinya, wajar bila tenaga-tenaga muda usia belasan tahun asal tempat tinggalnya mengerjakan berbagai pesanan pedagang. Sambil diiringi alunan musik dangdut yang mengiringi penyanyi dangdut masa kini, tangan-tangan trampil bekerja bagai menari-nari. Dalam beberapa saat kemudian beraneka ragam monel pun terselesaikan. “Saya sejak awal sudah kepincut dengan monel buatannya Pak Ali, selain dipasarkannya mudah, buatannya halus dan mengikuti tren,” ucap salah seorang pedagang yang secara kebetulan ikut nimbrung ketika Majalah GEMARI bertandang ke rumahnya, beberapa waktu lalu. Meski disanjung mitra bisnisnya, tidak lantas membuat Ali puas. Bahkan dengan santun ia merasa masih perlu belajar lagi agar mampu menyikapi tren pasar. Ia pun sangat ingin suatu saat disain-disainnya banyak digandrungi peminat dan pasar. Sikap jujur dan sadar untuk terus kreatif menciptakan banyak variasi mendorong Ali bersama anak buahnya melakukan pendalaman-pendalaman model. Tapi terlepas dari semua itu, sejatinya menurut mantan tukang pengrajin emas yang diolahnya dari emas lantakan ini tak lain memelihara kepercayaan. “Dengan memelihara kepercayaan dengan mitra baik pedagang maupun bank, dan selalu menepati janji, selain tetap menjaga kualitas dan variasi produk, itu barangkali kunci usaha selama ini,” papar Ali Sodikin seraya mengakhiri perbincangan. HAR
Posted in Uncategorized | No Comments »
Tidak ada komentar:
Posting Komentar