Minggu, 21 September 2008

BAHAN KERAMIK : PERKEMBANGANNYA DALAM BIDANG TEKNIK

BAHAN KERAMIK : PERKEMBANGANNYA DALAM BIDANG TEKNIK

September 19th, 2008 by Trag’s


Dalam dunia teknik material logam merupakan bahan dominan yang digunakan dalam perencanaan mesin. Material tersebut memiliki sifat tahan terhadap panas, memiliki kekerasan yang tinggi, dan juga sangat kuat. Logam sangat banyak di perolehi dalam kandungan bumi. Namun material logam memiliki berat jenis yang besar dan mengalami proses korosi. Sehingga merupakan suatu masalah dalam menghasilkan suatu product yang ekonomis. Misalnya dalam pembuatan mesin diesel, 90 % komponennya menggunakan material logam. Hal ini akan menjadikan mesin tersebut lebih berat sehingga umur efektifnya tidak panjang.

Material teknik dewasa ini mengalami perkembangan yang begitu pesat. Perkembangan tersebut meliputi di dalam struktur, komposisi, sifat-sifat fisik dan mekanik. Sifat-sifat fisik yaitu berkaitan dengan berat jenis material tersebut, manakala sifat mekanik berkaitan dengan kemampuannya untuk digunakan di dalam produk teknik.

Para engineer material dewasa ini sedang giat-giatnya mengadakan penelitian terhadap bahan-bahan yang terbuat daripada non metal. Salah satunya adalah keramik. Keramik pada dasarnya terbuat dari tanah liat dan umumnya di gunakan untuk perabot rumah tangga dan bata untuk pembangunan perumahan. Pada masa kini keramik tidak lagi hanya terbatas penggunaanya untuk keperluan tradisional seperti tersebut di atas, malah sekarang keramik telah mengalami kemajuan dan di kenal dengan bahan keramik termaju. Bahan keramik sudah di gunakan dalam bidang Teknik Elektro, Sipil, Mekanik, Nuklir bahkan bahan keramik ini di gunakan juga dalam bidang Kedokteran.

Bahan keramik sebahagian sudah di gunakan dalam motor bakar seperti untuk komponen-komponen mesin diesel misalnya untuk turbo charge, klep dan kepala piston.


Posted in Uncategorized | No Comments »


Kriyan, Kalinyamatan, Jepara

Kriyan, Kalinyamatan, Jepara

September 18th, 2008 by Trag’s



Kriyan adalah desa di kecamatan Kalinyamatan, Jepara, Jawa Tengah, Indonesia. Penduduk desa ini memiliki mata pencaharian sebagai pedagang, pengrajin, pendidikan, pegawai pemerintah, dan lainnya. Mayoritas penduduknya bergama muslim. Berdasarkan kisah sejarah, Desa Kriyan merupakan salah satu wilayah pusat kerajaan Kalinyamat yang pada jaman dulu dipimpin Ratu Kalinyamat. Seorang Ratu yang begitu kesohor pada jaman penyebaran Islam oleh Wali Songo. Di Desa ini terdapat sebuah masjid, namanya Masjid Al Makmur yang konon merupakan masjid peninggalan jaman Ratu Kalinyamat yang saat itu dibangun Kiyai Jafar Shidiq. Ada yang menarik dari desa ini. Yakni kerajinan monel atau baja putih yang cukup indah bisa ditemui di Desa Kriyan. Mulai bentuk cincin, kalung, gelang, atau lainnya yang harganya cukup terjangkau. sehingga layak dijadikan sebagai buah tangan atau oleh-oleh ketika mengunjungi Kota Jepara. Selain itu sebagian masyarakat Desa Kriyan ada yang berprofesi sebagai pengolah ikan laut asap yang biasanya dijual ke pasar-pasar tidak hanya di wilayah Jepara namun hingga Kudus. Salah satu contoh masakan dari ikan asap ini adalah mangut yang terkenal enak di wilayah Semarang dan sekitarnya. Tidak ada salahnya jika mengunjungi Desa Kriyan, cobalah lezatnya ikan laut asap dan oleh-oleh kerajinan monel atau baja putih.


Posted in Uncategorized | No Comments »


Usaha Aksesoris Monel Punya Prospek Bagus

Usaha Aksesoris Monel Punya Prospek Bagus

September 18th, 2008 by Trag’s

Gebyar perkembangan dunia mode membawa dampak positif berbagai sektor bisnis. Bukan saja bagi para perancang busana, tapi juga pengusaha aksesoris. Berbagai variasi aksesoris mulai dari bernuansa etnik hingga modern semua mudah didapat. Demikian halnya dengan aksesoris terbuat dari logam, seperti monel. Monel yang berbahan dasar dari plat baja tersaji dalam berbagai bentuk dan model. Nyaris di setiap sudut keramaian kota bisa dijumpai hasil kerajinan monel.

Ali Sodikin, lelaki berusia 37 tahun asal Robayan, Kalinyamatan, Jepara, Jawa Tengah, sebagai salah satu pengrajin monel. Dengan latar belakang profesi sebagai pengrajin emas beberapa tahun lalu, menggugah kejeliannya menangkap peluang kebutuhan pasar tentang aksesoris monel. “Sepertinya tren aksesoris monel mempunyai prospek bagus di pasaran, sehingga mendorong saya mencoba menekuni usaha ini,” aku Ali, demikian panggilan akrab bapak tiga anak yang berbadan kekar namun santun. Tepatnya usaha monel ditekuni Ali sejak tahun 2000 lalu. Dengan modal usaha pinjaman berdasarkan kepercayaan dari berbagai pihak baik calon pembeli maupun pemilik bahan dasar, yakni plat baja, bersama dua tenaga kerja usia remaja yang direkrutnya ia mulai mengolah kerajinan ini.

Bekal ketrampilan dan kemampuannya mengolah desain-desain sesuai tren pasar. Tak pelak, dalam waktu singkat banyak pedagang dari sekitar Jepara membeli hasil produksinya. Lambat laun kebutuhan bahan bakunya pun kian bertambah. Ali berupaya mencari penyedia bahan baku dengan harga terjangaku, maka terjalinlah kemitraan dengan Sumber Teknik Semarang. “Rata-rata setiap bulan saya membutuhkan sekitar tiga hingga empat kuintal bahan baku,” ujar pengusaha kecil yang hanya lulusan SMP. Bahkan, lanjut dia, satu bulan menjelang puasa hanya dalam waktu 20 hari sekitar 3,75 kuintal bahan baku sudah habis. Barangkali wajar, karena memang monel buatan Ali sangat akrab di pasar Jepara dan sekitarnya. Bahkan acap kali monel asal kota ukir tersebut dibawa pedagang untuk di pasarkan di berbagai kota-kota lainnya, seperti Jakarta, Yogyakarta, Semarang, dan sebagainya.

Mitra BPR Nusamba Sebagai pengusaha kecil, Ali sangat sadar bila hanya mengandalkan keuangan yang ada, usahanya tak mampu berkembang secara pesat. Sementara kompetisi pasar semakin ketat. Berkat perkenalan dan silahturahminya dengan staf pemasaran Bank Perkreditan Rakyat (BPR) Nusamba Pecangaan, Jepara, tujuh tahun silam, telah membawa angin segar. “Alhamdulillah, hingga sampai saat ini saya sudah menjadi nasabah BPR Nusamba selama tujuh tahun. Kemitraan ini sangat membantu kelangsungan usaha kecil yang saya tekuni,” ungkap Ali Sodikin. Pada awal perkenalannya dengan BPR tersebut, pengrajin ulet asal Robayan ini, hanya meminjam Rp 500 ribu. Namun secara teratur, terarah dan terencana, pada pinjaman tahap VII kali ini pinjamannya mencapai Rp 10 juta. Pengrajin yang membayar 13 orang pengrajinnya secara borongan minimal Rp 17.500 per orang per hari dan bila lembur hingga jam 01.00 dini hari bisa mendapat Rp 35 ribu, dalam setiap bulan minam sekitar 2000-3000 kodi monel berbagai bentuk dan model. Setiap pedagang yang bertandang ke rumah sekaligus tempat work shop rata-rata mengambil sekitar 200-300 kodi monel. Melihat animo pedagang yang menggemari hasil produksinya, wajar bila tenaga-tenaga muda usia belasan tahun asal tempat tinggalnya mengerjakan berbagai pesanan pedagang. Sambil diiringi alunan musik dangdut yang mengiringi penyanyi dangdut masa kini, tangan-tangan trampil bekerja bagai menari-nari. Dalam beberapa saat kemudian beraneka ragam monel pun terselesaikan. “Saya sejak awal sudah kepincut dengan monel buatannya Pak Ali, selain dipasarkannya mudah, buatannya halus dan mengikuti tren,” ucap salah seorang pedagang yang secara kebetulan ikut nimbrung ketika Majalah GEMARI bertandang ke rumahnya, beberapa waktu lalu. Meski disanjung mitra bisnisnya, tidak lantas membuat Ali puas. Bahkan dengan santun ia merasa masih perlu belajar lagi agar mampu menyikapi tren pasar. Ia pun sangat ingin suatu saat disain-disainnya banyak digandrungi peminat dan pasar. Sikap jujur dan sadar untuk terus kreatif menciptakan banyak variasi mendorong Ali bersama anak buahnya melakukan pendalaman-pendalaman model. Tapi terlepas dari semua itu, sejatinya menurut mantan tukang pengrajin emas yang diolahnya dari emas lantakan ini tak lain memelihara kepercayaan. “Dengan memelihara kepercayaan dengan mitra baik pedagang maupun bank, dan selalu menepati janji, selain tetap menjaga kualitas dan variasi produk, itu barangkali kunci usaha selama ini,” papar Ali Sodikin seraya mengakhiri perbincangan. HAR

Posted in Uncategorized | No Comments »